Kultur Sekolah
2013: 22 mendefinisikan tentang budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk pesona sekolah. Harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua dan siswa dapat bekerja sama, memecahkan masalah menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang yang dibahas pada rapat staf, dan bagaimana teknik mengajar yang baik dan pentingnya pengembangan staf. Dengan demikian siswa tidak hanya menuntut ilmu saja akan tetapi diajarkaan nilai-nilai dan keyakinan untuk membentuk pesona dan siswa dapat bekerjasama dengan warga sekolah lainnya untuk memecahkan masalah yang ada di dalamnya. Sekolah juga harus mampu memahami bagaimana teknik mengajar yang baik. Berikut menurut para ahli tentang pengertian kultur sekolah adalah sebagai berikut : 1 Hoy, Tarter, dan Kotkamp mendefinisikan kultur sekolah yaitu sebuah sistem orientasi bersama norma-norma, nilai, dan asumsi dasar yang dipegang oleh semua anggota sekolah dan menjaga keeratan unit dan memberikan identitas yang berbeda. Budaya culture dapat menjadi ciri khas dari suatu sekolah tersebut yang menjadi identitas yang melekat berdasarkan nilai, keyakinan, serta 15 asumsi yang berkembang di dalam sekolah. Budaya atau kultur sekolah berkembang dari waktu ke waktu sebagai pengalaman atas cerminan perilaku dari suatu sekolah Farida Hanum, 2013: 195. 2 Budaya sekolah merupakan jaringan yang kompleks tradisi dan ritual yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orang tua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi Peterson 2002, dalam jurnal Ariefa Efianingrum 2013: 23. 3 Schein menyatakan kultur sekolah adalah hasil invensi dari suatu pola asumsi dasar, penemuan, atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat seorang belajar untuk mengatasi masalah- masalah yang diselesaikan yang dianggap baik dan valid lalu diwarisi ke warga baru, dengan cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan bagaimana mengatasi permasalahan tersebut Nuryadin Eko Raharjo, 2011: 16. 4 Willard Waller 1932 menyatakan sekolah memiliki sebuah kultur milik mereka sendiri seperti sekolah, ritual-ritual kompleks dalam hubungan dengan sesama, sebuah penetapan cara rakyat, dan lebih dari itu sanksi dan sebuah kode etik yang berdasarkan oleh hal –hal tersebut Deal and Peterson 2009: 5. Jadi, kultur sekolah merupakan ciri khas yang berkembang pada suatu sekolah. Ciri tersebut akan melekat pada warga sekolah terutama guru dan murid yang digambarkan dalam proses pembelajaran dan 16 interaksi antar warga sekolah yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan mengikat kebersamaan antar warga sekolah untuk memecahkan permasalahan yang ada dan untuk memajukan mutu serta kualitas pendidikan pada sekolah tersebut. Dari beberapa penjelasan para ahli diatas, kultur sekolah memiliki pengaruh yang besar untuk pengembangan suatu sekolah, oleh karena itu peran dari kultur sekolah harus dipahami oleh seluruh warga sekolah agar semua warga sekolah dapat memecahkan permasalahan di sekolah tersebutBegitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap
sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai
pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah.
Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan”
dalam dinamika budaya sekolah. Kondisi ini adalah normal sebagaimana
dijelaskan oleh Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yang
menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan
antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi:
“a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and
asporation: special rituals and ceremonies: unique history of
achievement and tradition: unique socio-economic and geographic
location”.
Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap
perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan
karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi
dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya
kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial.
Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon
perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan
sekolah.
Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang
unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik
pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya
bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat
bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat
untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani
kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).
Pengertian kultur sekolah beraneka ragam. Deal dan Kennedy
(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3)
mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik
bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga
suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat
saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah
kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai
disepakati secara luas di sekolah, sejumlah kelompok memiliki.kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilainilai. Keadaan ini tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan
dan nilai-nilai subordinasi itu tidak sejalan atau bahkan bertentangan
dengan membangun suatu masyarakat sekolah pro belajar atau
membangun sekolah yang bermutu.
Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa
kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan
oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah
yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga
baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang,
memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur
sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam
memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak
lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.
Menurut Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah
Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil
invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat
ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta
dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara
yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalahmasalah tersebut. Menurut Zamroni (2005: 15), kultur atau budaya dapat
diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan
berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut sekolah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar