DIARI DANICA

Minggu, 25 April 2021

Manajemen Kelas

 Nama:Maysa Danica

Kelas:PAI 4E.

NIM:11901146

MAKUL:Magang 1

Manajemen kelas


   Kata “manajemen” berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Dalam hal ini, manajemen belum memiliki definisi yang mapan dan diterima secara universal. Mary Parker Follet, misalnya, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain[1]. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi.

Sedangkan manajemen kelas dalam bahasa Inggris sering disitilahkan dengan clasroom  management  atau dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan idarat al-fashl. Pengertian  dalam skup ini pada umumnya juga berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang meliputi perencanaan, perngorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan dan penilaian.

Wilford A. Weber (James M. Cooper, 1995 : 230) mengemukakan bahwa Classroom management is a complex set of behaviors the teacher uses to establish and maintain classroom conditions that will enable students to achieve their instructional objectives efficiently – that will enable them to learn.

Pengertian di atas menekankan bahwa manajemen kelas lebih mengarah pada seperangkat perilaku yang kompleks dimana guru menggunakan untuk menata dan memelihara kondisi kelas yang akan memampukan para siswa mencapai tujuan pembelajaran secara efesien.

Made Pidarta, (1988:  4) memiliki pandangan yang lebih bersifat umum dari pada pandangan di atas, dia menyatakan bahwa manajemen kelas ialah proses mengintegrasikan sumber-sumber daya manusia (pelayan pendidikan) yang saling berhubungan serta menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan.

Berdasarkan uraian di atas, penulis dapat mendefinisikan manajemen kelas sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan guru dalam upaya menciptakan kondisi kelas agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan tujuannya. Secara sederhana juga dapat dikatakan bahwa manajemen kelas adalah upaya untuk menjaga dan mempertahankan ketertiban kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif.

Sedangkan tindakan-tindakan yang perlu dilakukan guru dalam menciptakan kondisi kelas adalah melakukan komunikasi dan hubungan inter-personal  antara guru-siswa secara timbal balik dan efektif, selain melakukan perencanaan/persiapan mengajar.

Adapun mengenai tujuan manajemen kelas sebenarnya sangat sulit untuk menentukan penjelasan yang pasti terhadap satu permasalahan tujuan. Hal itu disebabkan banyaknya tujuan yang dikemukakan oleh masing-masing manajemen/organisasi, serta semakin meluasnya makna yang terkandung di dalamnya. Kendatipun demikian penyusun mencoba mengemukakan tujuan manajemen kelas sesuai dengan rumusan dari Dirjend. PUOD dan Dirjend. Dikdasmen (1996 : 2 ) sebagaimana berikut  :

  1. Mewujudkan situasi dan kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
  2. Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
  3. Menyediakan dan mengatur fasilitas belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelektual siswa dalam kelas.
  4. Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya serta sifat-sifat individunya.

Sedangkan pendekatan-pendakatan operasional yang dapat digunakan dalam pengelolaan atau manajemen kelas, menurut Wilford A. Weber (James M. Cooper, 1995 : 233), adalah   sebagai berikut :

  1. Pendekatan Otoriter, yang berarti, upaya menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui penggunaan disiplin, siswa perlu diawasi dan diatur.
  2. Pendekatan intimidasi, atau kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas melalui intimidasi.
  3. Pendekatan permisif, yaitu memberikan kebebasan siswa, apa yang ingin dilakukannya, sementara guru hanya mengawasinya.
  4. Pendekatan masak. Pendekatan ini dilakukan dengan menciptakan suasana kelas yang mengikuti petunjuk/resep yang telah disajikan terlebih dahulu, mengenai apa yang boleh dan apa yang tidak.
  5. Pendekatan instruksional, yaitu seperangkat kegiataan guru untuk menciptakan suasana kelas yang efektif melalui perencanaan pembelajaran yang bermutu dan dilaksanakan dengan baik.
  6. Pendekatan modifikasi tingkah laku, dengan mengembangkan tingkah laku peserta didik yang diinginkan dengan mengurangi tingkah laku yang tidak diinginkan.
  7. Pendekatan penciptaan iklim sosio-emosional, yaitu dengan mengembangkan hubungan interpersional yang baik dan iklim sosio-emosional kelas yang positif antar guru dan siswa.
  8. Pendekatan sistem proses kelompok atau dinamika kelompok, yakni upaya menumbuhkan dan mempertahankan organisasi atau kelompok kelas yang efektif.

Dari delapan pendekatan tersebut yang dianggap mampu untuk mengoptimalisasikan pengelolaan kelas secara efektif adalah pendekatan modifikasi perilaku, iklim sosio-emosional, dan sistem proses kelompok/dinamika kelompok.

 

  1. Fungsi dan Masalah Manjemen Kelas

Selain memberi makna penting bagi tercipta dan terpeliharanya kondisi kelas yang optimal, manajemen kelas juga memiliki fungsi-fungsi tertentu. Fungsi manajemen adalah elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat di dalam proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan.

Fungsi manajemen secara umum pertama kali diperkenalkan oleh seorang industrialis Perancis bernama Henry Fayol pada awal abad ke-20 (http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen). Secara garis besarnya, manajemen kelas dapat berfungsi sebagai :

  1. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Dalam hal ini guru mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.
  2. Pengorganisasian (organizing)dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah guru dalam melakukan pengawasan terhadap cara kerja peserta didik. Pengorganisasian dapat dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, dan lain sebagainya.
  3. Pengarahan (directing) adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kepemimpinan (leadership) seorang guru.
  4. Pengevaluasian (evaluating) adalah proses pengawasan dan pengendalian proses belajar mengajar untuk memastikan bahwa jalannya pembelajaran sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Seorang guru juga dituntut untuk menemukan masalah yang ada dalam operasional pembelajaran, kemudian memecahkannya sebelum masalah itu menjadi semakin besar.

Adapun masalah-masalah yang sering dijumpai dalam manajenen kelas, secara garis besar dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu : masalah individual dan masalah kelompok. Munculnya masalah individual disebabkan beberapa kemungkinan tindakan siswa seperti :

  1. Tingkah laku yang ingin mendapat perhatian orang lain.
  2. Tingkah laku yang ingin menujukkan kekuatan
  3. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain
  4. Peragaan ketidakmampuan

Sedangkan masalah-masalah kelompok yang kadang muncul dalam kelas dapat berupa  :

  1. Kelas kurang kohesif lantaran alasan tingkat kemampuan, jenis kelamin, suku, tingkatan sosial ekonomi, dan sebagainya
  2. Penyimpangan dari aturan-aturan yang telah disepakati sebelumnya
  3. Anggota kelas mereaksi negatif terhadap salah seorang anggotanya
  4. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari persoalan-persoalan yang sedang dikerjakan.
  5. Prosedur dan Rancangan Manajemen Kelas

Manajemen kelas merupakan suatu tindakan yang menunjukkan kepada kegiatan-kegiatan yang berusaha menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses pembelajaran yang efektif. Jadi prosedur manajemen kelas adalah serangkaian langkah kegiatan manajemen kelas yang dilakukan bagi terciptanya kondisi optimal serta mempertahankan kondisi optimal tersebut supaya proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efesien.

Memperhatikan dua dimensi tindakan dalam manajemen kelas, maka prosedur atau langkah-langkah manajemenpun bertumpu pada prosedur dimensi pencegahan dan prosedur dimensi penyembuhan.

Adapun langkah langkah pencegahannya sebagai berikut :

  1. Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
  2. Peningkatan kesadaran peserta didik
  3. Sikap tulus dari guru
  4. Mengenal dan menemukan alternatif pengelolaan
  5. Menciptakan kondisi sosial yang adaptif

Sedangkan langkah-langkah prosedur dimensi penyembuhan dapat berupa :

  1. Mengidentifikasi masalah
  2. Menganalisis masalah
  3. Menilai alternatif-alternatif pemecahan
  4. Mendapatkan balikan

Rancangan dapat diartikan sebagai serangkaian kegiatan yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kaitannya dengan tugas guru menyusun rancangan prosedur manajamen kelas berarti guru menentukan serangkaian kegiatan tentang langkah-langkah manajemen kelas yang disusun secara sistematis berdasarkan pemikiran yang rasional untuk menciptakan kondisi lingkungan yang optimal bagi keberlangsungan kegiatan belajar siswa.

Dalam penyusunan rancangan prosedur manajemen kelas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :

  1. Pemahaman terhadap arti, tujuan, dan hakikat manajemen kelas
  2. Pemahaman terhadap hakikat peserta didik yang sedang dihadapi
  3. Pemahaman terhadap bentuk penyimpangan serta latar belakang tindakan penyimpangan yang dilakukan peserta didik
  4. Pemahaman terhadap pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan dalam manajemen kelas
  5. Pemilikan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat rancangan prosedur manajemen kelas.
  6. Penerapan Manajemen Kelas yang Inovatif dalam Pembelajaran Bahasa Arab

 

Dalam upayanya menciptakan pembelajaran yang kreatif, efektif dan menyenangkan bagi peserta didik, guru perlu melakukan manajemen kelas yang inovatif.

Untuk dapat menciptakan manajemen kelas yang inovatif, khususnya dalam pembelajaran bahasa Arab, penyusun beranggapan, setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan dan dijalankan, yaitu :

  1. Melakukan manajemen ruang kelas

Pengelolaan atau manajemen ruang kelas dapat mencakup pada ukuran bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja belajar, jumlah siswa dalam satu kelas dan dalam satu kelompok, serta komposisi siswa dalam kelompok tertentu, seperti siswa yang kurang pandai dan pandai, pria dan wanita.

Dalam pengelolaan raung kelas, guru dapat memilih beberapa model penataan ruang kelas yang banyak dicontohkan pada buku-buku pembelajaran aktif (active learning)[2].  Model-model itu di antaranya adalah :

  • Model corak tim, yaitu dengan mengelompokkan meja-meja setengah lingkaran di ruang kelas agar memungkinkan guru untuk melakukan interaksi tim.
  • Model meja konferensi, di mana penyusunan meja belajar dibuat seperti meja konferensi. Model ini dapat mengurangi peran pengajar dan menambahkan peran peserta didik dalam pembelajaran.
  • Model workstation, susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, meja belajar disusun secara berhadap-hadapan yang dapat mendorong partner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama. Dan masih banyak lagi bentuk model-model pengelolaan kelas yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru.

Dalam memilih model penataan ruang kelas, guru harus memperhatikan kondisi fisik ruang kelas, jumlah siswa serta kerelevansian sebuah model dengan metode pembelajaran yang akan dipergunakan.

  1. Menggunakan teknik pembelajaran aktif

Ada banyak teknik pembelajaran aktif dari mulai yang sederhana – yang tidak memerlukan persiapan lama dan rumit serta dapat dilaksanakan relatif dengan mudah — sampai dengan yang rumit – yaitu yang memerlukan persiapan lama dan pelaksanaan cukup rumit.

        Beberapa jenis teknik pembelajaran aktif yang dapat digunakan antara lain adalah:

  • Think-Pair-Share

Dengan cara ini peserta didik diberi pertanyaan atau soal untuk dipikirkan sendiri kurang lebih 2-5 menit (think) -soal dapat berupa qawa`id atau bahan qir`ah untuk diterjemahkan- kemudian peserta didik diminta untuk mendiskusikan jawaban atau pendapatnya dengan teman yang duduk di sebelahnya (pair). Setelah itu pengajar dapat menunjuk satu atau lebih siswa guna menyampaikan pendapatnya atas pertanyaan atau soal itu bagi seluruh kelas (share).

  • Collaborative Learning Groups

Dibentuk kelompok yang terdiri dari 4-5 orang yang dapat bersifat tetap sepanjang semester atau bersifat jangka pendek untuk satu pertemuan. Untuk setiap kelompok dibentuk ketua kelompok dan penulis. Kelompok diberikan tugas untuk dibahas dan didiskusikan bersama. Seringkali tugas ini berupa diskusi atau percakapan (muhadatsah). Tugas yang diberikan kemudian bisa diselesaikan dalam bentuk catatan singkat mengenai muhadtasah atau mempraktekkan langsung percakapan tersebut di depan kelas.

  • Exam questions writting

Untuk mengetahui apakah peserta didik sudah menguasai bahan ajar tidak hanya diperoleh dengan memberikan ujian atau tes. Meminta setiap siswa untuk membuat soal ujian atau tes yang baik dapat meningkatkan kemampuan mereka mencerna bahan ajar yang telah diberikan sebelumnya.

Teknik ini dilakukan dengan cara meminta setiap peserta didik untuk membuat dan menuliskan pertanyaan dalam secarik kertas seputar materi yang telah diajarkan, kemudian guru secara langsung bisa membahas dan memberi komentar atas beberapa soal yang dibuat oleh siswa di depan kelas dan/atau kemudian memberikan umpan balik, dan memberikan kesempatan kepada siswa yang lain untuk menjawabnya terlebih dahulu.

Untuk menerapkan pembelajaran aktif beberapa hal harus diperhatikan agar tujuan pembelajaran dapat dicapai sebagaimana mestinya. Melupakan hal-hal ini dapat saja membuat pembelajaran aktif tidak berhasil dan mengakibatkan tujuan pembelajaran tidak tercapai.

Hal-hal yang harus diperhatikan di antaranya adalaha tujuan pembelajaran aktif harus ditegaskan dengan jelas, guru harus memberikan pengarahan yang jelas kepada setiap kelompok yang dibentuk,  peserta didik harus diberitahu mengenai apa yang akan dilakukan, dan yang paling penting adalah mempertimbangkan kesesuaian antara teknik pembelajaran yang akan digunakan dengan materi atau bahan ajar, kondisi kelas, serta ketersediaan sarana dan waktu pembelajaran.

Diposting oleh DIARI DANICA di 01.37 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Sabtu, 17 April 2021

Manajemen Sekolah

 Manajemen Sekolah

Nama:Maysa Danica

Kelas:PAI 4 E

NIM:11901146

Makul:Magang 1


       Pengertian Manajemen Sekolah

Manajemen sekolah adalah Suatu usaha yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan belajar-mengajar yang optimal. Maka dengan demikian ada beberapa faktor manajemen sekolah sebagai berikut:

1. Faktor Fungsi Pokok Manajemen Sekolah
Manajemen sekolah perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru serta masyarakat setempat, untuk itu perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi pokok manajemen tersebut merupakan proses yang berkesinambungan.
Selanjutnya, keempat fungsi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Perencanaan program pendidikan sedikitnya mempunyai dua fungsi utama. Pertama, merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga untuk mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan.
Kedua, kegiatan untuk menggerakkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien dan efektif untuk menciptakan tujuan yang telah ditetapkan.
b.   Pelaksanaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
c. Pengawasan dapat diartikan  sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan, merekam, memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat serta memperbaiki kesalahan. Pengawasan merupakan kunci keberhasilan dalam seluruh proses manajemen, perlu dilihat secara komprehensif, terpadu dan tidak terbatas pada hal-hal tertentu.
d.    Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.

Kepala sekolah, guru dan tenaga administrasi harus memiliki sifat profesional dan manajerial. Mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan untuk menjamin bahwa segala keputusan penting yang dibuat oleh sekolah, didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan. Kepala sekolah khususnya, perlu mempelajari dengan teliti, baik kebijakan dan prioritas pemerintah maupun prioritas sekolah. Untuk kepentingan tersebut, kepala sekolah harus :
1.       Memiliki kemampuan untuk berkolaborasi (bekerjasama) dengan guru dan masyarakat sekitar sekolah.
2.       Memiliki pemahaman dan wawasan yang luas tentang teori pendidikan dan pembelajaran.
3.       Memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menganalisis situasi sekarang berdasarkan apa yang seharusnya serta mampu memperkirakan kejadian di masa depan berdasarkan situasi sekarang.
4.       Memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengidentifikasikan masalah dan kebutuhan yang berbentuk efektivitas pendidikan di sekolah, dan
5.       Mampu memanfaatkan berbagai tantangan sebagai peluang serta mengkonseptualkan arah baru untuk perubahan.[19]

Pemahaman terhadap sifat profesional dan manajerial tersebut sangat penting agar peningkatan efisiensi, mutu dan pemerataan serta supervisi dan monitoring yang direncanakan disekolah betul-betul untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesuai dengan kerangka kebijakan pemerintah dan tujuan sekolah.
Manajemen sekolah sebagai proses pemberdayaan sekolah dalam rangka peningkatan mutu dan kemandirian sekolah. Dengan manajemen sekolah diharapkan kepala sekolah, guru dan personil lain disekolah serta masyarakat setempat dapat melaksanakan pendidikan sesuai dengan kebutuhan, perkembangan zaman, karakteristik lingkungan dan tuntutan global.
Dalam dunia pendidikan, pemberdayaan  merupakan cara yang sangat praktis dan produktif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dari kepala sekolah (manajer), para guru, dan pegawai. Proses yang ditempuh untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan produktif tersebut adalah dengan membagi tanggung jawab secara profesional kepada para guru. Satu prinsip terpenting dalam pemberdayaan ini adalah melibatkan guru dalam proses pengambilan keputusan dan tanggung jawab, melalui pemberdayaan itu diharapkan para guru memiliki kepercayaan diri.
Dalam manajemen sekolah, pemberdayaan dimaksudkan untuk memperbaiki kinerja sekolah agar dapat mencapai tujuan secara optimal, efektif dan efisien. Pada sisi lain, untuk memberdayakan sekolah harus pula ditempuh upaya-upaya memberdayakan peserta didik dan masyarakat setempat, disamping mengubah paradigma pendidikan yang dimiliki oleh para guru dan kepala sekolah. Para guru dan kepala sekolah perlu 
Diposting oleh DIARI DANICA di 23.01 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Minggu, 11 April 2021

Kultur Sekolah

 Kultur Sekolah 


           2013: 22 mendefinisikan tentang budaya sekolah merupakan himpunan norma-norma, nilai-nilai, dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk pesona sekolah. Harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua dan siswa dapat bekerja sama, memecahkan masalah menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang yang dibahas pada rapat staf, dan bagaimana teknik mengajar yang baik dan pentingnya pengembangan staf. Dengan demikian siswa tidak hanya menuntut ilmu saja akan tetapi diajarkaan nilai-nilai dan keyakinan untuk membentuk pesona dan siswa dapat bekerjasama dengan warga sekolah lainnya untuk memecahkan masalah yang ada di dalamnya. Sekolah juga harus mampu memahami bagaimana teknik mengajar yang baik. Berikut menurut para ahli tentang pengertian kultur sekolah adalah sebagai berikut : 1 Hoy, Tarter, dan Kotkamp mendefinisikan kultur sekolah yaitu sebuah sistem orientasi bersama norma-norma, nilai, dan asumsi dasar yang dipegang oleh semua anggota sekolah dan menjaga keeratan unit dan memberikan identitas yang berbeda. Budaya culture dapat menjadi ciri khas dari suatu sekolah tersebut yang menjadi identitas yang melekat berdasarkan nilai, keyakinan, serta 15 asumsi yang berkembang di dalam sekolah. Budaya atau kultur sekolah berkembang dari waktu ke waktu sebagai pengalaman atas cerminan perilaku dari suatu sekolah Farida Hanum, 2013: 195. 2 Budaya sekolah merupakan jaringan yang kompleks tradisi dan ritual yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orang tua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi Peterson 2002, dalam jurnal Ariefa Efianingrum 2013: 23. 3 Schein menyatakan kultur sekolah adalah hasil invensi dari suatu pola asumsi dasar, penemuan, atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat seorang belajar untuk mengatasi masalah- masalah yang diselesaikan yang dianggap baik dan valid lalu diwarisi ke warga baru, dengan cara yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan bagaimana mengatasi permasalahan tersebut Nuryadin Eko Raharjo, 2011: 16. 4 Willard Waller 1932 menyatakan sekolah memiliki sebuah kultur milik mereka sendiri seperti sekolah, ritual-ritual kompleks dalam hubungan dengan sesama, sebuah penetapan cara rakyat, dan lebih dari itu sanksi dan sebuah kode etik yang berdasarkan oleh hal –hal tersebut Deal and Peterson 2009: 5. Jadi, kultur sekolah merupakan ciri khas yang berkembang pada suatu sekolah. Ciri tersebut akan melekat pada warga sekolah terutama guru dan murid yang digambarkan dalam proses pembelajaran dan 16 interaksi antar warga sekolah yang terus berkembang dari waktu ke waktu dan mengikat kebersamaan antar warga sekolah untuk memecahkan permasalahan yang ada dan untuk memajukan mutu serta kualitas pendidikan pada sekolah tersebut. Dari beberapa penjelasan para ahli diatas, kultur sekolah memiliki pengaruh yang besar untuk pengembangan suatu sekolah, oleh karena itu peran dari kultur sekolah harus dipahami oleh seluruh warga sekolah agar semua warga sekolah dapat memecahkan permasalahan di sekolah tersebutBegitu pula dengan kebudayaan atau kultur dalam sekolah. Setiap 

sekolah memiliki budaya sekolah yang berbeda dan mempunyai 

pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah. 

Perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan adanya “keunikan” 

dalam dinamika budaya sekolah. Kondisi ini adalah normal sebagaimana 

dijelaskan oleh Bare (Siti Irene Astuti D, 2009 : 119-120) yang 

menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik dari pendekatan 

antropologi dalam memahami dalam budaya sekolah meliputi:

“a unique mixing of ethnicity, values, experience, skills, and 

asporation: special rituals and ceremonies: unique history of 

achievement and tradition: unique socio-economic and geographic 

location”. 

Budaya sekolah menyebabkan perbedaan respon sekolah terhadap 

perubahan kebijakan pendidikan, dikarenakan ada perbedaan 

karakteristik yang melekat pada satuan pendidikan, selain itu budaya Jadi dalam hal ini budaya atau kultur sekolah mempengaruhi 

dalam dinamika kultur sekolah yang tetap menekankan pentingnya 

kesatuan, stabilitas, dan harmoni sosial pada sekolah, dan realitas sosial.

Budaya sekolah juga memperngaruhi kecepatan sekolah dalam merespon 

perubahan tergantung kemampuan sekolah dalam merancang pelayanan 

sekolah.

Sekolah merupakan sistem sosial yang mempunyai organisasi yang 

unik dan pola relasi sosial di antara para anggotanya yang bersifat unik 

pula. Hal itu disebut kebudayaan sekolah. Namun, untuk mewujudkannya 

bukan hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Sekolah dapat 

bekerjasama dengan pihak-pihak lain, seperti keluarga dan masyarakat 

untuk merumuskan pola kultur sekolah yang dapat menjembatani 

kepentingan transmisi nilai (Ariefa Efianingrum, 2007: 51).

Pengertian kultur sekolah beraneka ragam. Deal dan Kennedy 

(Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum, 2003: 3) 

mendefinisikan kultur sekolah sebagai keyakinan dan nilai-nilai milik 

bersama yang menjadi pengikat kuat kebersamaan mereka sebagai warga 

suatu masyarakat. Jika definisi ini diterapkan di sekolah, sekolah dapat 

saja memiliki sejumlah kultur dengan satu kultur dominan dan sejumlah 

kultur lainnya sebagai subordinasi. Sejumlah keyakinan dan nilai 

disepakati secara luas di sekolah, sejumlah kelompok memiliki.kesepakatan terbatas di kalangan mereka tentang keyakinan dan nilai￾nilai. Keadaan ini tidak menguntungkan, jika antara nilai-nilai dominan 

dan nilai-nilai subordinasi itu tidak sejalan atau bahkan bertentangan 

dengan membangun suatu masyarakat sekolah pro belajar atau

membangun sekolah yang bermutu.

Stolp dan Smith (Moerdiyanto, 1995: 78-86) menyatakan bahwa 

kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil invensi, penemuan 

oleh suatu kelompok tertentu saat ia belajar mengatasi masalah-masalah 

yang berhasil baik serta dianggap valid dan akhirnya diajarkan ke warga 

baru sebagai cara-cara yang dianggap benar dalam memandang, 

memikirkan, dan merasakan masalah-masalah tersebut. Jadi, kultur 

sekolah merupakan kreasi bersama yang dapat dipelajari dan teruji dalam 

memecahkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi sekolah dalam mencetak 

lulusan yang cerdas, terampil, mandiri dan bernurani.

Menurut Schein (Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah 

Umum, 2003 : 3-4), kultur sekolah adalah suatu pola asumsi dasar hasil 

invensi, penemuan atau pengembangan oleh suatu kelompok tertentu saat 

ia belajar mengatasi masalah-masalah yang telah berhasil baik serta 

dianggap valid, dan akhirnya diajarkan ke warga baru sebagai cara-cara 

yang benar dalam memandang, memikirkan, dan merasakan masalah￾masalah tersebut. Menurut Zamroni (2005: 15), kultur atau budaya dapat 

diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan 

berkembang berdasarkan spirit dan nilai tertentu yang dianut sekolah. 

DOKUMEN YANG TERKAIT

PENGELOLAAN KULTUR SEKOLAH BERBASIS SYARIAH Pengelolaan Kultur Sekolah Berbasis Syariah (Studi Situs Di SMP IT Nur Hidayah Surakarta).

 0  1  17

PENGELOLAAN KULTUR SEKOLAH BERBASIS SYARIAH Pengelolaan Kultur Sekolah Berbasis Syariah (Studi Situs Di SMP IT Nur Hidayah Surakarta).

 0  3  19

Pengaruh locus of control, kultur keluarga, dan kultur sekolah pada hubungan antara kecerdasan emosional dengan prestasi belajar : survei pada siswa-siswi kelas 3 SMP Negeri dan swasta di Kota Madya Yogyakarta.

 0  0  320

KULTUR SEKOLAH DI SMA NEGERI 5 YOGYAKARTA.

 1  22  186

KULTUR SEKOLAH DI SMA NEGERI 8 YOGYAKARTA.

 0  4  155

KULTUR SEKOLAH DI SMA GADJAH MADA YOGYAKARTA.

 0  2  166

KULTUR SEKOLAH BERBASIS TEKNOLOGI DI SMP NEGERI 2 YOGYAKARTA.

 0  1  211

STUDI TENTANG KULTUR SEKOLAH PADA SEKOLAH NASIONAL BERSTANDAR INTERNASIONAL DAN SEKOLAH BERMUTU KURANG DI KOTA YOGYAKARTA

 0  0  6

kultur budaya smk negeri 3 yogyakarta

 0  0  29

ID implementasi kawasan tanpa rokok ktr di sekolah studi kualitatif pada smp negeri

 1  7  10
  • Dokumen global
    •  
    •  
  • DUKUNGAN

  • info@id.123dok.com
  • Syarat penggunaan
  • Kebijakan tentang cara menjual dokumen
  • LINKS

  • Titles
  • Topics
Copyright 123dok © 2017.
Dokumen global

    Kategori

  • Semua
  • Bisnis
  • Karier
  • Data & Analitik
  • Desain
  • Perangkat & Hardware
  • Ekonomi & Keuangan
  • Lingkungan
  • Pendidikan
  • Teknik
  • Hiburan & Seni
  • Makanan
  • Pemerintah & Organisasi Nirlaba
  • Kesehatan & Pengobatan
  • Pelayanan kesehatan
  • Internet
  • Hubungan investasi
  • Hukum
  • Kepemimpinan & Manajemen
  • Gaya hidup
  • Marketing
  • Mobile
  • Berita & Politik
  • Presentasi & Public Speaking
  • Perumahan
  • Perekrutan & HR
  • Ritel
  • Penjualan
  • Ilmu pengetahuan
  • Perbaikan diri sendiri
  • Layanan


Diposting oleh DIARI DANICA di 06.50 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Selasa, 26 November 2019

Cerpen😁

                     Perempuan malu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakata.

        Di suatu hari hiduplah seseorang ibu dan anak tinggal dipertengahan hutan disana mereka tinggal hanya berdua dan tidak ada siapa-siapa pun selain mereka berdua.ibu itu bernama ibu Aminah dan anak perempuannya bernama minah.
        Minah adalah anak satu-satunya dari ibu Aminah dan bapak Bejo yang lama sudah meninggal dunia.minah adalah putri yang pemalu disaat dia tinggal di hutan minah tak pernah bertemu dengan satu orang pun yang hanya orang tua perempuannya saja.suatu hari ada sekelompok para pemuda masuk kehutan yang sedang mencari hewan buruan sampai dipertengahan hutan sang para pemuda itu bertemulah Minah gadis yang pemalu itu,setelah itu pemuda mendekat kearah Minah yang tanpa disadari oleh Minah,tak lama kemudian Minah mengetahui ada seseorang pemuda yang ingin mendekatinya setelah sepengetahuan Minah,Minah untuk mencoba berlari dan merasakan malu setelah pemuda itu ingin mendekatinya.
     Minah adalah gadis yang sangat pemalu karena apa Minah tak pernah bertemu dengan pemuda,atau pun berdekatan dengan pemuda mana pun.pada saat Minah didekati oleh pemuda itu Minah berlari terbirit-birit  karena sangking malunya bertemu dengan pemuda tak pernah dia jumpai.pada esoknya hari para pemuda itu pergi lagi kepertengahan hutan untuk menjumpai gadis itu pemuda itu akhirnya menemukan lah rumah gadis itu dipertengahan hutan sampai disana pemuda itu pun mulai mendekati rumah itu dengan berlahan-lahan  agar ibu dan anak itu tidak terkejut atas kehadiran tamu yang tidak diundang
Diposting oleh DIARI DANICA di 17.52 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Mengenai Saya

DIARI DANICA
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

  • ▼  2021 (3)
    • ▼  April (3)
      • Manajemen Kelas
      • Manajemen Sekolah
      • Kultur Sekolah
  • ►  2019 (1)
    • ►  November (1)
Tema Sederhana. Diberdayakan oleh Blogger.